Senin, 05 Agustus 2019

Kupu Kupu Berhari Raya



Baru saja saya menyadari kalau kedua hari raya ini tidak terselenggara begitu saja. Namun ada sesuatu sebelumnya yang menjadi pengantar. Hari raya Idul Fitri misalnya, sudah pasti sebelumnya ada kewajiban untuk puasa selama tiga puluh hari. Begitu pula hari raya Idul Adha yang sebelumnya ada anjuran puasa sepuluh hari.

Meskipun puasa sunah namun kedudukan sepuluh hari sebelum hari raya Idul Adha tersebut bagitu besar. Tidak hanya sekedar hari biasa. Bagaimana tidak, Allah sumpah dengan sepuluh malam dari sepuluh tersebut. Dalam sepuluh darinya adalah begitu mulia  bahkan hari paling mulia sepanjang tahun.

Dan jika dilihat dari prosesi sebelum hari raya yang mana didahului oleh puasa. Puasa adalah aktifitas yang sangat perlu diperhatikan karena sangat berbeda dengan aktifitas lain. Bagaimana tidak, puasa adalah pekerjaan menahan diri dari segala sesuatu yang diangggap sebagai kesenangan manusia. Mulai dari hal yang paling mendasar seperti makan dan minum, kemudian menahan diri dari hal yang berbentuk etika seperti menahan dari nafsu syahwat. Juga menahan diri dari gejolak nafsu amarah dan kejahatan.

Dari sini bisa dilihat betapa urgensinya puasa bagi kehidupan seseorang. Lalu jika dikaitkan dengan hari raya bagaimana? Hari raya adalah moment dimana seseorang berbahagia, bersenang senang. Ternyata untuk mencapai kebahagiaan tersebut didahului dengan proses yang bagi banyak orang terasa berat. Secara simpelnya adalah berakit-rakit dahulu berenang kemudian. Berproses dahulu sukses kemudian. Ini adalah sudut pandang dari sisi religi.

Dalam hukum alam, tentu kita tidak asing dengan proses bagaimana ulat yang merupakan hewan menjijikkan dan tidak elok dipandang. Kemudian ia melewati fase dimana dia harus “berpuasa” selama sekian waktu. Membungkus dirinya dengan penutup, menahan diri dari kesana kesini, diam dan terus seperti itu sampai beberapa waktu. Lantas pada saatnya, ia “berhari raya” dengan membuka kepompongnya, keluar dengan bentuk yang sudah sama sekali bebeda. Yang dulunya tidak layak dipandang, sekarang menjadi perhatian berpasang-pasang mata. Yang dulunya adalah sepotong serangga berjalan melata sekarang menjadi bersayap, berwarna warni dan terbang kesana kesini.

Kedua hal diatas, antara hari raya dan kupu-kupu yang secara menarik memiliki titik persamaan. Keduanya tidak saja sama sama dalam kenyataannya, namun keduanya mewakili hukum Allah di alam semesta dan hukum Allah dalam ajaran-Nya. Antara sunnatullah fil kaun dan sunnatullah fi syari’i. Ada keserasian antara keduanya. Maka sangat tepat jika seseorang ingin memahami bagaimana pola hukum Allah maka ia harus terlebih dahulu memahami pola alam semesta.

Pada akhirnya, sebenarnya kehidupan – yang diwakili oleh tuntunan Tuhan dan realita alam semesta- sudah banyak memberikan isyarat kepada manusia bagaimana ia harus menjalani kehidupannya. bagaimana ia melangkah dalam alam kehidupan hingga ia mendapat kehidupan yang hakiki.

Gamaleya, H-7 Idul Adha 2019

Minggu, 30 Juni 2019

SEJAK KAPAN ISLAM MENGAJARKAN HIDUP MISKIN?


Sebenarnya disadari atau tidak, dua prinsip yang sangat menentukan langkah umat Islam dalam menjalani kehidupannya, dimana kedua hal ini telah berhasil merubah tatanan dalam kehidupan umat Islam sendiri. Pertama adalah prinsip kekayaan, kedua adalah prinsip pengetahuan.

Selama ini persepsi terhadap kekayaan sudah lebih kepada pandangan negatif. Dimana kekayaan adalah sumber malapetaka, penghalang seorang manusia menjadi hamba Tuhannya karena lebih menghambakan diri pada kekayaan. Dan sederet stigma negatif yang dialamatkan pada kekayaan yang kesemuanya berputar pada kekayaan adalah mudarat.

Sehingga yang terjadi adalah jika ingin berada di jalan yang benar adalah dengan menjauhi kekayaan, menghindar dari gelimang harta dunia. Maka tidak heran jika seseorang yang berpandangan demikian, hidupnya menjauhi segala hal yang menjurus kepada kekayaan. Seperti bekerja keras, banting tulang, belajar ekonomi dan sebagainya. Otomatis kehidupannya pun jauh dari kekayaan.

Salahkah hal itu?

Suatu prinsip yang terbentuk akan tergantung bagaimana suatu pemahaman didapat. Mereka yang berprinsip bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang harus dijauhi biasanya memahami bahwa dalam Islam terdapat dorongan untuk menjauhi dunia dengan hiruk pikuknya karena menjadi sumber kemudaratan. Juga dengan melihat keadaan para panutan umat yang hidup dengan sederhana dan tidak begitu menghiraukan materi dunia.

Namun kiranya perlu meninjau kembali pada pemahaman yang didasarkan pada sikap panutan terdahulu terhadap kekayaan, benarkah mereka menjauhi materi duniawi sehingga menjauhi juga pada kekayaan?

Pertama, adalah yang paling jelas yaitu anjuran yang berulang kali dalam mendermakan harta kekayaan. Dengan anjuran yang paling pokok adalah zakat yang mana telah menjadi salah satu dari lima pilar rukun islam. Zakat sangat jelas merupakan ajaran yang memerintahkaan kepada umatnya untuk membelanjakan hartanya.

Kedua, terdapat ratusan ayat yang mengenai perbuatan baik. Anjuran untuk berbuat baik, beramal salih, beraktifitas yang berkualitas serta imbalan untuk semua itu baik di dunia maupun di akherat. Betapa hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa Islam menghendaki segala perbuatan yang bermanfaat, baik dan bagus dalam kehidupan ini.

Ketiga, kiranya perlu menggambarkan bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabatnya terhadap harta. Apakah menjauhi atau malah menganjurkan?
Rasulullah bersabda : “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”. Betapa ini menunjukkan bahwa pemberi adalah anjuran. Namun jika tidak memiliki apa yang diberikan bagaimana ia akan mendapatkan kebaikan tersebut. Kemudian juga dalam sabdanya : “Sebaik baiknya harta adalah harta baik ditangan orang yang baik.”

Suatu ketika, Rasulullah sedang berada di masjid ketika ada utusan dari daerah Khaibar membawa hasil dari aset beliau. Dengan membawa sejumlah uang sekitar dua milyar. Lantas Rasulullah menggelar semuanya itu disamping beliau dan membagi-bagikan kepada orang-orang sampai tidak tersisa satu kepingpun sebelum beliau masuk rumahnya. Begitu pula ketika Rasulullah memberikan kawanan kambing seluas lembah gunung kepada salah satu sahabat Rasul. Tentu ketika kita melihat bagaiamana dermawannya Rasulullah dan jumlah yang beliau dermakana, betapa menunjukkan bahwa beliau sangat kaya raya.

Kemudian bagaimana dengan para sahabat Rasulullah? Abdurrahman Ibn Auf berkata : “Betapa bagusnya harta ini, dengannya ku bisa menyambung kerabatku, dengannya pula aku mendekatkan diri kepada Tuhanku.” Begitu pula Zubair Ibn Awwam berkata : “Sesungguhnya dalam harta terdapat perbuatan-perbuatan baik, menyambung sanak keluarga, mendermakan untuk menjunjung agama. Begitu pula menstimulus budipekerti yang baik. Disaat yang sama dalam harta terdapat kemuliaan dunia dan derajatnya. ”

Suatu ketika Umar ibn Khattab berkata : “Sesungguhnya aku menjumpai seseorang lantas ia membuatku kagum. Ku tanyakan apa ia memiliki pekerjaan ? jika di jawab bahwa ia tidak memiliki pekerjaan, maka hilanglah kekagumanku.”

Ia juga menyerukan kepada para fakir miskin : “Wahai para fakir miskin, angkat kepala kalian. Sesungguhnya sarana sudah sangat jelas. Berlomba lah dalam kebaikan, jangan kalian menjadi beban bagi umat Islam.

Juga kita melihat bahwasannya kehidupan sahabat Rasulullah yang tercitrakan sebagai hidup yang sederhana ternyata tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki harta benda. Bahkan sebaliknya, perputaran perekonomian mereka sangatlah besar. Sebagai contoh :

Umar Ibn Khattab menikahi Umm Kulthum Binti Ali dengan mahar 40.000 (lebih dari 1 milyar, dengan asumsi 1 dirham 3,7 gram perak). Begitu pula Abdurrahman Ibn Auf menikahi seorang muslimah dari warga Anshar dengan mahar 30.000 (hampir satu milyar).  Ada salah satu sahabat nabi yang suatu hari merasa gundah gulana karena hartanya menumpuk. Lantas ia mengadukan hal itu kepada istrinya. Oleh istrinya disuruh membagi-bagikan kepada kaumnya. Benar saja, ia membagikan hartanya. Selesai melakukan itu, ia menanyai kepada pegawainya berapa jumlah uang yang keluar? Ternyata 400.000 (kurang lebih 10 milyar)

Begitu pula jika kita lihat jumlah harta yang diwariskan oleh para sahabat ketika meninggal. Ibnu Mas’ud mewariskan 70.000 begitu pula Zubair ibn Awam mewariskan 500.000 ketika meninggal. Bahkan disebut-sebut warisan Umar Ibn Khattab mencapai nilai triliyun.

Bagaimana dengan anjuran miskin versi “mereka” ?

Sebenarnya ketika prinsip kesederhanaan dan menghindari kekayaan ketika diteliti lebih lanjut, selain tidak selalu benar, namun juga membawa kepada pola hidup yang tidak ideal menurut Islam itu sendiri. Karena jika prinsip antipati terhadap kekayaan ini sampai menjadi suatu budaya bagi masyarakat, tentu akan banyak mengalami kemudaratan.

Bagaimana tidak, jika suatu daerah menjadi dominasi kemiskinan maka tidak menutup kemungkinan akan mengalami bencana. Dan itu sangat dijauhi oleh Islam. Dalam Islam sendiri kemiskinan adalah momok yang harus diberantas. Dengan bukti adanya kewajiban zakat, anjuran yang berulang-ulang dalam mendermakan harta dan peduli terhadap sosial.
Sehingga sikap yang anti kekayaan ini tidak bisa dengan begitu saja menjadi prinsip kehidupan. Karena bagaimanapun juga dengan kekayaanlah suatu perjuangan bisa ditegakkan, suatu misi bisa dilaksanakan.

Sehingga pandangan pribadi saya. Kekayaan adalah sesautu yang netral. Tidak bisa disebut sumber petaka juga tidak bisa dikatakan harus dikejar hingga ajal menjemput. Kekayaan adalah sarana. Tergantung  yang menggunakan nya apakah mau diarahkan kepada kebaikan atau kejelekan.

Islam mengajak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang benar, yang mana tujuan akhirnya bukanlah untuk dipergunakan kesenangan semata, namun lebih dari itu, sisi kemanusaan, sosial, saling membantu yang mana semua itu adalah tujuan yang mulia dan sangat ditekankan oleh Islam.

Kairo, Pasca Ujian Musim Panas 2019.

End Note:
Ibn Abi Dunya, Islah Al-Mal, Muassasah Kutub Tsaqafiyah, Beirut, Cet pertama, 1993.
Lajnah prodi Dakwah dan Peradaban, Adlwa’ Ala Nudzum Islamiyah, Al-Azhar, Kairo, 2019.     

Senin, 01 April 2019

BANGSA MEMBACA


Algemene Middelbare School (AMS) adalah sekolah Hindia Belanda yang setara dengan SMA pada era modern, pelajar di sekolah tersebut diwajibkan membaca setidaknya 20 hingga 25 buku sastra selama periode tiga tahun pembelajaran. Kegiatan membaca tersebut disertai dengan tugas menulis tiap minggunya. Bisa dibayangkan berapa hasil karya tulis yang dihasilkan oleh para pelajar selama masa pendidikan tiga tahun mereka.

Banyak tokoh besar yang lahir dari pendidikan tersebut, diantaranya adalah Sukarno, Hatta, Ali Sosroamidjoyo. Kelak pada saatnya, karya tulis dari tokoh-tokoh tersebut mampu merubah dengan dahsyat terhadap bangsa Indonesia. Termasuk karangan Sukarno yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, buku ini mengulas pemikiran dahsyat sang proklamator terutama era sebelum kemerdekaan. Demikian juga Hatta si kutu buku dengan jargon terkenalnya “Indonesi Vrij” – Indonesia merdeka. Buku tersebut ditulis Hatta ketika ia ditahan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Literasi bagi bangsa

Thomas Bartholin Teolog asal Denmark mengutarakan  bahwa literasi tidak hanya menafsirkan kenyataan, namun juga mengubahnya. Kemudian ia melanjutkan, tanpa literasi, Tuhan diam, sains macet, sastra bisu, keadilan terbenam dan semuanya berada dalam kegelapan. literasi tidak hanya membentuk karakter perorangan, namun membentuk karakter suatu bangsa. Denga literasi, peradaban akan terbentuk dan berdiri. 4 abad yang lampau sudah ia tuliskan hal ini, hingga kini pembuktiannya masih terasa.

Suatu bangsa yang akrab dengan literasi, menjadikan bacaan dan tulis menulis menjadi bagian dari hidup mereka, akan mampu mengenali kekurangan dan kebutuhan bangsanya. Juga mampu meningkatkan kualitas pribadinya sehingga menjadi karakter siap bersaing. Juga muncul semangat untuk menjadikan bangsa lebih baik. Semua ini adalah bagaimana suatu literasi mampu membentuk karakter bangsa.

Sejarah telah berulang kali membuktikan teori ini, sebutlah peradaban yang berada di Mesopotamia dan  lembah sungai Nil ribuan tahun yang lalu. Raja-raja Firaun yang mampu menjadikan Mesir kuno sebagai pengendali peradaban di masanya tidak semata-mata bertumpu pada faktor kekuatan militer. Namun yang tidak banyak disadari, ternyata mereka memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi buku lebih dari 20.000.

Kemudian Baghdad yang menjadi nahkoda peradaban dunia di abad ke tujuh, Ibnu Nadim dalam Al-fihrist menyebutkan bahwa penggerak utama kemajuan Baghdad adalah gerakan literasinya yang luar biasa. Saat itu, khalifah Al-Makmun menerapkan kebijakan agar tiap-tiap desa dibangun perpustakaan dengan koleksi ribuan buku. Penjual buku mendapat subsidi negara hingga harga sebuah buku tidak lebih mahal dari sepotong roti.

Hasilnya kebijakan ini, perkembangan literasi berjalan sedemikian pesatnya. Masyarakat setelah sibuk bekerja di pasar bahkan masih sempat untuk mendiskusikan pengetahuan. Sementara yang lain sibuk dengan menyalin teks-teks dan menterjemah karya Yunani kuno. Sehingga kemudian bermunculan pusat-pusat literasi seperi Bait Al-Hikmah, Dar Ilmi dan lain sebagainya. Semua ini adalah bekal Baghdad untuk memimpin peradaban berabad-abad selanjutnya.

Demikian juga yang terjadi di era modern, negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Jepang. Mereka dapat menyuguhkan fenomena rakyat yang terdidik dan antusias terhadap pengetahuan. Hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka menyelipkan satu dua buku di tas ketika perjalanan. Mereka mengisi waktu dengan menatap baris-baris pengetahuan. Dan hal ini sudah menjadi tradisi dan bagian dari kehidupan mereka.

Bangsa yang akrab dengan bacaan akan sibuk dengan pengetahuannya daripada menjadi sampah masyarakat. Mereka tidak lagi melakukan hal yang merugikan, bahkan justru mereka akan mempersiapkan diri menjadi bangsa yang cerdas. Tidak dipungkiri, maju mundurnya suatu bangsa adalah seberapa dalam kualitas pengetahuan mereka.

Bencana literasi bangsa

Pada tahun 2012, penelitian yang dilakukan oleh Progamme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa Indonesia menududuki peringkat ke 60 dari 65 peserta penelitian untuk kategori membaca. Hasil ini mencakup terhadap memahami, menggunakan dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Ironisnya, capaian itu turun dibandingkan peringkat Indonesia pada tahun 2009 yang menempati urutan 57, bahkan pada tahun 2006 indonesia masih mampu bertahan di tingkat 48.

Senada dengan hal itu, Profesor Mahmud Hamdi Zaqzuq menyebutkan kondisi buta aksara yang memprihatinkan  di sebagian besar negara yang terlibat konflik. Tercatat 46 persen penduduk dari global negara-negara tersebut yang masih menderita buta aksara. Tentu saja ini sebanding lurus dengan fakta bahwa kekacauan yang melanda di negara-negara konflik ternyata banyak yang merupakan negara berpenduduk terbelakang.

Hal ini menjadi masuk akal, karena konflik yang terjadi tersebut tidak mungkin muncul begitu saja. Namun didukung dengan kondisi masyarakat yang berpotensi konflik. Faktor utama yang menjadi pendukung suburnya konflik adalah kebodohan, disusul dengan berbagai penyakit masyarakat lainnya.  
Kelemahan dalam literasi akan sangat mengancam kedaulatan suatu bangsa. Hal itu dikarenakan ketidaksiapan bangsa tersebut dalam menghadapi situasi yang membahayakan. Seperti yang terjadi belakangan ini, tren berita hoaks tidak hanya karena ada yang memunculkan, namun bisa menjadi laris karena masyarakatnya tidak menyaring arus informasi yang masuk. Sehingga mereka dengan mudah digoyang berita yang tidak jelas.

Juga bisa dilihat dari berbagai kejadian di Timur Tengah. Seperti yang masih hangat adalah kasus di Suriah yang berimbas terhadap pergolakan dalam negeri. Begitu juga kasus yang terjadi di Tunisa, revolusi yang terjadi sangat erat kaitannya dengan bermacam-macam informasi tidak jelas yang masuk dan dikonsumsi begitu saja oleh para penduduknya.

Tentu kita tidak berharap bangsa Indonesia akan mengalami nasib buruk serupa, namun kita perlu kembali mewaspadai dan menyadari kekurangan yang masih saja dihinggapi banyak penduduk negeri. Literasi adalah tentang maju mundurnya suatu bangsa. Dimana ada bangsa yang maju maka di situ literasi berkembang pesat. Sebaliknya, jika suatu negara bangsa tidak lagi peduli dengan literasi maka bisa dipastikan bahwa negara tersebut sedang dalam jurang kemunduran.

Pemuda sebagai masa depan bangsa

Ketika menyadari bahwa Singapura berada dalam kondisi yang sangat kacau, dimana kejahatan, kebodohan, kemisikinan merajalela di negaranya, Lee Kuan Yew sebagai perdana menteri pertama segera mengambil langkah untuk mengeluarkan negaranya dari berbagai masalah tersebut. Pertama ia membangun industri-industri agar warganya sibuk bekerja dan tidak sempat merintangi negara.

Bersamaan dengan hal itu, ia mendirikan sekolah-sekolah, universitas, menggaji guru dengan angka yang tinggi. Mengirim putera-puteri negaranya ke luar negeri untuk belajar. Sebagai pemimpin, ia sadar bahwa pembangunan negara haruslah dimulai dari pembangunan manusianya. ia menyiapkan generasi baru dengan menanamkan impian, harapan dan pengetahuan. Kini pada saatnya, Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat ekonomi dan keamanan terkuat di Asia, begitupula dalam pendidikan dan kualitas masyarakatnya.

Literasi adalah kunci peradaban, karena dengannya kita dapat membuka pintu pengetahuan. Dan dengan pengetahuan akan menjadi bekal kita untuk berkehidupan maju. Generasi muda sebagai pelanjut estafet bangsa sangat menentukan bagaimana arah kedepan berlalunya bangsa ini. Sehingga maju mundurnya bangsa ini tergantung bagaimana keadaan pemuda saat ini.
Dikirim ke Buletin Cakrawala-Kairo, 14 Maret 2019

Kamis, 28 Maret 2019

METAMORFOSIS FIKIH ALA NU


METAMORFOSIS FIKIH ALA NU*
M. Arif Hidayat*
Mengamati perkembangan NU akhir-akhir ini, nampak sekali adanya pergeseran dasar pelandasan hukum-hukum, khususnya yang bersangkutan dengan Kaidah Fikih. Memang dalam taraf permukaan memang nampak sejak dulu -- sampai kini -- kiai-kiai NU mengandalkan kaidah-kaidah fiqih, dari sosok yang paling tradisional sampai yang paling modern kayak Gus Dur. "Bagi saya, kaidah-kaidah fikih yang terdapat di Al-Asybâh wa al-Nadzâir-nya Imam Al-Suyûthiy itu merupakan pandangan hidup", ungkap Gus Dur dalam sebuah pertemuan dengan masyarakat mahasiswa di Kairo (Kamis, 9 September 1999).

Kaidah-kaidah yang digunakan itu-itu saja, tak pernah berubah, namun pondasi dasarnya yang berubah. Hal ini bisa terjadi karena kaidah fikih tak ubahnya ibarat "pedang bermata dua". Pedang itu bisa digunakan seorang  Syafi'iyah, Malikiyah, Hanafiyah, atau Hanbaliah, dll. Dan bahkan siap melampaui semua mazhab yang ada. Alatnya tetap, hanya mekanisme dalamnya yang senantiasa berubah. Ini juga yang pernah saya maksudkan dengan mengibaratkan Kaidah Fikih sebagai "sortcut" atau jalan pintas berijtihad. (lihat juga tulisan saya "NU dan Jalan Pintas Berijtihad", Duta, 4 Oktober 1999)

Di sini akan saya ketengahkan sebuah Kaidah Fikih penting yang dinamik dan terbukti sering sekali digunakan, yaitu "al-hukmu yadûru m'a 'illatihî (wujûdan wa 'adaman)" atau lebih singkatnya disebut kaidah "ta'lîl al-hukm" (mendasarkan sebuah hukum atas alasan atau sebab). Dari kasus yang paling sederhana sampai problematika yang sangat kompleks dan berkait dengan berbagai faktor lain, misalnya persoalan gender, bisa dengan mudah dikaitkan dengan kaidah ini.

Misalnya ketika Gus Dur ngotot meneruskan pencalonannya sebagai presiden. Ia tak perduli ketika beberapa kiai lebih mendukung Habibie dan sambil menolak pencalonannya. "Keputusan mereka bukanlah sebuah hukum", sergahnya, "karena mereka harus mencari 'illatnya terlebih dahulu untuk menetapkan sebuah hukum".

Yang tersirat dari kejadian itu adalah upaya Gus Dur membangun pluralitas pemikiran. Proses menghukumi suatu kejadian bisa menghasilkan berbagai hukum yang berlawanan, tergantung sudut pandangnya. Karena sebenarnya 'illat sebagai pondasi hukum bisa berujud dalam berbagai bentuk menurut situasi kondisi, cara pandang dan kemampuan intelektual masing-masing mujtahid. Apalagi jika suatu hukum yang mau diputuskan bersifat pribadi, yang tak bisa ditentukan secara umum memakai "kaca mata umum". Untuk mengatasi hal ini, dikenallah dalam disiplin Ushul Fikih prinsip "tahqîq al-manâth al-'âm" (mendasarkan hukum pada kondisi umum) dan "tahqîq al-manâth al-khâs" (mendasarkan hukum pada kondisi khusus). Yang pertama memandang permasalahan secara obyektif dan yang kedua secara subyektif. Masing-masing sama mendapat pengakuan. Suatu saat berdasar manâth al-'âm hukum perlu ditegakkan, dan berdasar manâth al-'khâs suatu hukum boleh tampil beda pada saat yang lain. Dari sinilah muncul pluralitas pemikiran yang harus saling dihormati.

Contoh lain lagi adalah seperti yang nampak pada kesimpulan Seminar Nasional Gender (Fiqhunnisa') di Baturaden, 16-17 Juli 1999. Poin penting di antara beberapa kesimpulannya adalah "tuntutan perubahan penafsiran atau reinterpretasi ulang atas beberapa nas ayat atau hadits yang berhubungan erat dengan keperempuanan berdasar kaidah ta'lîl al-hukm itu. Reinterpretasi itu perlu dilakukan karena kondisi sosial budaya telah berubah. Wanita tidak lagi dipandang sebagai "barang" atau "materi" yang hanya untuk dinikmati, 
namun cara pandang masyarakat modern meletakkan wanita sebagai partner atau perkawanan yang bisa diajak diskusi, bertukar pendapat, juga musyawarah untuk menentukan hukum.

Ada satu hal yang perlu kita renungkan dari kesimpulan Seminar tersebut, yaitu mengenai pemakaian kaidah ta'lîl al-hukm itu. Seminar tersebut menyimpulkan, "karena keadaan sosial sudah berubah, maka hukumnya pun harus berubah".

Yang perlu digarisbawahi adalah memutuskan "perubahan keadaan sosial" sebagai 'illat (alasan/sebab perubahan hukum). Persoalannya, jika hukum-hukum yang telah lewat -- dan sekarang dipandang sebagai "merendahkan" kaum perempuan -- sebagai "kesalahan sejarah", maka "perubahan sosial" tidak bisa dijadikan sebagai 'illat (alasan). Mengapa? Coba bedakan dengan hukum diperbolehkannya jama'-qashr salat ketika menemui masyaqqah (keletihan). Dalam kasus ini, masyaqqah ('illat) tentu tidak merupakan sebuah "kesalahan", namun sesuatu yg alami dan semua orang secara insidental pasti mengalaminya. Karenanya masyaqqah bisa dijadikan 'illat. Makanya Kalau kita sepakat menganggap hukum-hukum masa lalu itu sebagai suatu kesalahan sejarah, maka keadaan sosial sekarang -- yg menyamakan antara laki-laki dan perempuan --tidak bisa dijadikan 'illat.

Pandangan-pandangan kita sekarang ini terhadap perempuan merupakan sesuatu yg baru sama sekali, yakni hasil tinjauan ulang terhadap keputusan-keputusan masa lalu.  Dengan demikian tidak tepat mengkaitkan hukum persamaan laki-laki dan perempuan dengan kaidah ta'lîl al-hukm. Dan kenyataannya, beberapa pemikir modern sudah menyatakan bahwa tak ada nas (Qur'an atau hadits) yg menunjukkan subordinasi perempuan di bawah laki-laki, di antaranya Dr. Suad Soleh (Dosen Fak Syari'ah Al-Azhar University).

Namun, bagaimanapun, hal penting yang bisa dipetik dari kesimpulan seminar tersebut adalah tergesernya pandangan Syafi'iyyah atas 'illat yang menjadi pegangan kebanyakan orang NU selama ini. 'Illat, menurut mazhab Syafi'iyyah harus berupa sesuatu yang bisa dibatasi (mundlabith). Misalnya 'illatnya jama'-qashar salat adalah bepergian (safar) itu sendiri. Karena bepergian bisa dibatasi dengan jarak. Haluan Syafi'iyyah seperti itu berbeda dengan mazhab Malikiyyah, yang tidak mensyaratkan 'illat harus mundlabith. Baik mundlabith atau tidak bisa saja dipakai 'illat. Seminar fiqhunnisa' tersebut, dengan demikian, telah memunculkan fenomena baru; memutuskan adanya 'illat yang tidak lagi terbatasi, yakni keadaan sosial secara luas. Kesimpulannya, karena keadaan sosial telah berubah, makan hukumnya pun ikut berubah.

Walaupun kesimpulan itu hanya sekedar kesimpulan seminar untuk menyambut Muktamar, namun bagaimanapun ia harus diakui sebagai wujud nyata dinamika diskursus keislaman NU. Dan itu cukup untuk menunjukkan adanya gejala-gejala metamorfosis, walaupun sekedar karena jasa Kaidah Fikih. Atau dengan ungkapan lain, NU telah mempraktekkan prinsip-prinsip mazhab Malikiyyah, setelah lama Syafi'iyyah mendominasi pola fikir kiai-kiai NU. 

*** 


Seperti kita ketahui, Malikiyah adalah mazhab yang paling banyak menyerap metode-metode kemaslahatan dibanding mazhab-mazhab lain. Prisnsip "maslahat al-mursalah", "istihsân", "sad al-zarâi'", "fath al-zarâi'", dll, merupakan metoda-metoda yang mengutamakan kemaslahatan. Perlu kita ingat bahwa Al-Syatibiy, yang dikenal sebagai "abu al-maqâshid", secara kultur bermazhab Malikiyah. Bahkan seorang pemikir muslim modern, Prof. Dr. Hassan Hanafi pendiri gerakan "Kiri Islam", menyatakan secara jelas bahwa Kiri Islam dalam urusan fikih memihak mazhab Malikiyyah. Karenanya Hassan Hanafi menyebutnya sebagai mazhab kiri, berhadapan dengan Hanafiyyah, Syafi'iyyah, dan Hanbaliyyah.

Memakai kaidah ta'lîlul hukm tentu terasa lebih luwes, karena bisa menyangkutkan segala permasalahan dengannya. Semua sudut kehidupan bisa dikuasai penuh oleh 'illat, kecuali bidang "ta'abbudiyyah" (peribadatan). Ini tak lain karena ibadah merupakan manifestasi ketundukan seorang hamba terhadap Sang Pencipta. Sudah layaknya jika hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya merupakan sesuatu yang tak bisa ditelusuri oleh 'illat (al-ashlu fî al-ibâdât al-taabbud dûna al-iltifât ilâ al-ma’âniy). Di sinilah letak perbedaan antara urusan ibadah dan mu'amalah atau adat istiadat, di mana mu'amalah secara total dikuasai oleh 'illat (wa al-ashlu fî al-‘âdât al-iltifât ilâ al-ma’âniy).

Dengan demikian ta'lîlul hukm merupakan satu-satunya kaidah yang menunjukkan rasionalitas fikih -- yang sejatinya merupakan tabi'at syari'at Islam. Karena tiada lain 'illat adalah ibarat ruh sebuah hukum, jika ruh melayang maka hukumnya pun ikut melayang (al-ashlu an tazûla al-ahkâm bi zawâli illalihâ). Ruh tersebut bisa sirna, dikarenakan perubahan situasi dan kondisi yang menuntut adanya penyesuaian-penyesuaian baru. 

Melandaskan hukum pada 'illat sama halnya menyerahkan hukum pada dinamika realitas. Karena sebenarnya 'illat itu bersumber dari realitas. Dan kemampuan NU mengelaborasi 'illat secara tak terbatas (baca: 'illat Malikiyyah) akan membawanya ke taraf akseptabilitas dan kontekstualitas yang tinggi setiap waktu. Ia terus bergerak tidak akan terlindas oleh rotasi sejarah.
*Duta Masyarakat Baru  
**Al-Azhar University, aktifis KMNU Kairo.

Sumber : http://pcinu-mesir.tripod.com/
www.kmnu.org - Copyright © NU Mesir